Kiprah Para Pemuda Ngapak, Tembus 12 Besar Channel Di Youtube

0
316

Beritasiber – Banyumas, Menghibur orang melalui sebuah karya film pendek saat ini banyak dilakukan oleh sebagian masyarakat. Selain fasilitas yang sudah banyak mendukung seperti salah satunya cheenel Youtube. 

Namun setiap karya pasti mempunyai karakter pengemasan yang berbeda agar tampil lebih menghibur penontonnya, tak beda jauh dengan apa yang dilakukan kelompok anak muda yang membuat film film parodi dan komedi dengan nama ‘Koplak Story’.

“Bahasa Banyumasan itu unik, terus kayak mudah dimengerti apalagi ngapaknya,” kata Teguh Susilo yang akrab dipanggil Silo, salah satu pemeran dalam ‘Koplak Story’ kepada detikcom akhir pekan lalu.

Karena uniknya bahasa ‘ngapak’ tersebut hampir banyak orang langsung paham ketika ada orang yang berlogat ‘ngapak’ pasti berasal dari wilayah Jawa Tengah bagian selatan seperti Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebuman. Maka dari itu, melalui ‘Koplak Story’ anak-anak muda ini berusaha agar bahasa daerah ini bisa lebih dikenal oleh mayarakat Indonesia.

“Harapannya Koplak ingin terus berkarya, biar orang tahu kalau di Banyumas ada youtubers, ada kreator yang ingin ngenalin bahasa ‘ngapak’, biar orang Indonesia juga tahu bahasa Banyumasan,” ucap Silo yang besar di Papua ini.

Bersama teman-temannya Aming, Abad, Fian, Argiyan, Fatta, Febri, Eplox, Yanto, Aris dan Diah, insiparsi mereka lebih kepada sosok Bayu Skak, orang daerah yang bisa eksis melalui media Youtube dan menjadi fenomena Youtube Indonesia.

“Inpirasinya kita malah dari Bayu Skak, orang daerah yang berkarya hingga bisa ke tingkat nasional. Jadi biar orang tahu kalau orang di daerah juga bisa buat (video) kayak gini. Kita lebih mengangkat daerah,” ucap Silo yang saat ini tengah bersiap mengikuti syuting film layar lebar yang mengangkat budaya Banyumas berjudul ‘Satria’.

Sebagai seorang pemuda, dirinya mengatakan jika melalui media Youtube, pihaknya ingin menunjukan karya mereka melalui konten konten kreatif dan positif yang mereka buat untuk Indonesia. Dengan selalu meningkatkan kemampuan serta kualitas video yang mereka hasilkan.

“Sebagai anak muda, banyak hal positif yang bisa dilakukan tergantung dengan kemampuan mereka sendiri, seperti misalnya mereka berprestasi melalui olah raga, berkarya membuat video yang pada ujungnya untuk Indonesia juga. Paling tidak ini lho pemuda Indonesia kreatif-kreatif dan bisa berprestasi,” ucapnya.

Saat ini sudah sekitar 50-an karya yang dihasilkan oleh Koplak Story diantaranya berjudul ‘Download Anak’, ‘Kado Valentine Terindah”, “Om Telolet Om”, “Jaman Dulu vs Jaman Sekarang”, “Tukang Ojek Pengkolan” yang dipublikasikan melalui Youtube dengan jumlah subscriber mencapai 37 ribu dan 5 juta kali ditonton oleh orang.

Semua itu mengantarkan mereka sebagai salah satu channel terbaik dari 12 channel Youtube NextUp 2017 yang bersaing di antara 100 channel seluruh Indonesia.

“Dari 100 channel yang mendaftar, kita jadi salah satu 12 channel di Youtube NektUp dari seluruh Indonesia yang berhasil menang. Pihak Google membekali kreator kreator berpotensi besar untuk naik dalam segala hal, seperti subscriber, view, konten dan alhamduliah kita jadi salah satu yang terpilih,” ujarnya.

Saat dihubungi terpisah, pendiri Republik Ngapak, Ken Setiawan mengatakan jika dirinya sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan yang dilakukan kelompok anak muda yang tetap mempertahankan bahasa daerah. Bahkan mengenalkannya kepada semua orang melalui sebuah film parodi dan komedi.

“Saat ini tidak sedikit di antara generasi muda yang malas mengetahui budaya atau kearifan lokal yang ada di daerahnya sendiri. Diantara mereka, juga ada yang merasa malu untuk menggunakan bahasa lokal. Alasannya kampungan, norak dan tidak terkesan modern,” ujar Ken.

Menurut dia, Komunitas Republik Ngapak selama ini aktif mengangkat dan mengembalikan kejayaan kearifan lokal terutama dalam bahasa Ngapak sebagai bahasa daerah seperti Kebumen, Banyumas, Cilacap, Purwokerto, wonosobo, Tegal, Brebes Slawi, Bumiayu, Pemalang, Pekalongan, Purbalingga, dan Banjarnegara.

Apalagi saat ini banyak anak muda yang bukan bangga terhadap budaya lokal. Anak-anak muda, justru malu menggunakan bahasa daerahnya. Padahal, seharusnya bangga karena menjadi ciri khas daerah asal sebagai tempat lahirnya. Jika terlalu mengikuti globalisasi yang tidak dibarengi dengan menjaga kearifan lokal banyak anak muda menjadi korban modernisasi yang mengarah pada hal hal yang negatif.

“Anak muda merupakan tulang punggung bangsa, di tangan anak muda masa depan bangsa dipegang,” tegasnya.

Padahal, lanjut Ken, budaya lokal adalah sumber pengetahuan yang terintegrasi dengan pemahaman terhadap alam dan budaya sekitarnya. Sehingga budaya lokal harus tetap dilestarikan agar pembangunan bisa berjalan dengan dinamis.
(Detik.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here