Ketum Bakomudin Desak Polri Segera Usut Tuntas Kasus Pembunuh Para Ulama

0
462

Beritasiber.com – Jakarta, Ketua Umum Badan Koordinasi Mubaligh Se – Indonesia (BAKOMUBIN) Prof. Dr. H. Deddy Ismatullah, SH., MH. memberikan pernyataan keras terkait kasus pembunuhan ulama yang terjadi beruntun di wilayah Jawa Barat.

“Saya mendesak pihak Kepolisian untuk segera mengusut tuntas kasus penganiayaan dan pembunuhan para ulama. Saya menduga ada skenario untuk mengembangkan sikap intoleransi antar umat beragama disini. Kalau pelaku disebut sebut sebagai orang gila, mengapa bisa tepat mengeksekusi sasarannya yang adalah para ulama. Polisi harus bersikap netral dan profesional. Kepercayaan publik akan tergerus apabila Polri tidak bekerja profesional,” Terangnya saat diwawancarai awak media usai rapat internal Bakomubin di Sekretariat DPP Bakomubin daerah Bendungan Hilir Jakarta Pusat (22/02/18).

 

Menurut Prof. Deddy, jika persoalan ini tidak segera diungkap, nantinya akan timbul asumsi-asumsi politik yang akan tumbuh dan akan menimbulkan masalah yang lebih besar.

“Harus diusut tuntas, sebab masyarakat menunggu laporan polisi untuk mengungkap kasus ini.” tegas Prof. Deddy.

Saat ditanya ada kemungkinan Komunis bermain dalam penganiayaan dan pembunuhan ulama serta perusakan Gereja, Prof. Deddy dengan menegaskan, orang-orang yang beragama tidak mungkin menghancurkan gereja, tidak mungkin menghancurkan seorang Imam (ulama.red) dan polisi.

“itukan tidak boleh. Dalam aturan agama apapun tidak ada yang mengajarkan hal itu.” tegas Ketua Umum DPP Bakomubin ini.

Seperti diketahui bahwa dalam hitungan hari saja dua ulama dianiaya oleh orang yang diduga tidak waras. Dalam melakukan penyerangan tersebut terlihat ada kemiripan polanya. Dalam hitungan hari saja dua ulama dianiaya oleh orang yang diduga tidak waras. Ada kemiripan pola penyerangan yang menyebabkan kematian dan luka parah ini.

Kesamaan pertama, ulama/ustaz yang menjadi korban penganiayaan itu. Kedua, penyerangan dilakukan oleh orang yang diduga tidak waras alias kemungkinan sakit jiwa. Ketiga, penyerangan dilakukan pada waktu subuh.

Kemiripan pola ini bisa terjadi secara kebetulan, bisa juga memang ada yang membuatnya. Jika ada yang membuat tentu ada tujuan-tujuan atau pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada kelompok tertentu. Bisa juga ini bagian dari politik adu domba di tengah panasnya proses politik pilkada serentak khususnya di Jawa Barat.

Kasus pertama terjadi kepada Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri (Mama Santiong). Ia menjadi korban penganiayaan usai Shalat Subuh di masjid.

Polisi menangkap pelaku penganiayaan yang kemudian diidentifikasi kemungkinan lemah ingatan. Saat ini, kondisi Kiai Umar semakin membaik dan pelaku sudah ditahan.

Belum jelas motif penganiayaan terhadap Kiai Umar, tiba-tiba muncul kasus baru yang bahkan menyebabkan meninggalnya
Komando Brigade PP Persis, Ustaz Prawoto. Ustaz Prawoto meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit akibat dianiaya seorang pria pada Kamis (2/1) pagi.

Kronologisnya menurut Humas Brigade Persis Komando Pusat Persis disampaikan bahwa pelaku berinisial AM melakukan pemukulan terhadap korban dengan menggunakan linggis. Dugaan sementara, pelaku mendapat gangguan jiwa. Ia sempat diperiksa kondisinya di Rumah Sakit Jiwa.

Pada Kamis subuh itu ada orang tak dikenal mengamuk di depan rumah Ustaz Prawoto. Ia membawa linggis dan merusak pagar rumah korban.

Ustaz Prawoto saat itu sedang beristirahat di rumah kemudian keluar rumah. Di dalam rumah, ada dua anak Ustaz Prawoto yang masih kecil, yang satu masih balita dan satunya lagi bayi baru lahir.

Tiba-tiba tersangka mengejar Ustaz Prawoto hingga 500 meter dan sempat terjatuh. Orang tak dikenal ini langsung menyerang dengan linggis di tangannya. Ia menyerang di bagian kepala, tangan, dan badan. Pada pukul empat sore, Ustaz Prawoto meninggal dunia.

(Dharma L)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here