HATI HATI….!! BERZINAH DAN BERSELINGKUH KENA DELIK PIDANA MAKSIMAL 5 TAHUN PENJARA

0
584

Beritasiber.com – Jakarta, Kurangnya pengetahuan dan kesadaran hukum menyebabkan longgarnya perhatian masyarakat yang mentolerir perbuatan asusila terutama perzinahan ataupun perselingkuhan dalam kehidupan bermasyarakat yang beradab.

Bahkan lebih parah, perbuatan asusila seperti perselingkuhan yang menyebabkan perzinahan malah dianggap sebagai sebuah trend gaya hidup atau bahkan menjadi lifestyle yang membudaya. Padahal perzinahan ataupun praktek selingkuh sangat merusak sendi sendi kehidupan masyarakat yang beradab serta melanggar HUKUM. Hati hati….Berzinah kena delik PIDANA maksimal 5 tahun Penjara !

Menurut Kitab Undang Undang Hukum Pidana yaitu Pasal 284 KUHP secara eksplisit menyebutkan kata “zina”. Didefinisikan secara jelas dan tegas bahwa Zina adalah:

1. Perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan perkawinan (pernikahan);
2. Perbuatan bersenggama seorang laki-laki yang terikat perkawinan dengan seorang perempuan yang bukan istrinya, atau seorang perempuan yang terikat perkawinan dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (“KUHP”) memang tidak diatur secara khusus mengenai istilah perselingkuhan. Namun kita bisa menggunakan istilah yang ada dalam KUHP terjemahan Prof. Oemar Seno Adji, S.H., et al yakni istilah mukah (overspel) (dan tidak menutup kemungkinan ada perbedaan terminologi dalam KUHP terjemahan lain) sehingga untuk kasus ini dapat dikenakan Pasal 284 ayat (1) angka 1 huruf a KUHP.

Ilustrasi gambar perzinahan

R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal menjelaskan lebih lanjut mengenai gendak/overspel atau yang disebut Soesilo sebagai zinah adalah persetubuhan yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin dengan perempuan atau laki-laki yang bukan isteri atau suaminya. Untuk dapat dikenakan pasal ini, maka persetubuhan itu harus dilakukan atas dasar suka sama suka, tidak boleh ada paksaan dari salah satu pihak.

Mensosialisasikan pemahaman serta konsekwensi hukum yang benar harus dilakukan terus menerus agar ke depan masyarakat dapat hidup dan berkembang menjadi masyarakat yang lebih beradab, berbudaya serta memiliki tatanan kehidupan yang semakin baik. (Dharma L – Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here