APA ITU TINITUS ? Waspada Bila Ada Bunyi Dalam Telinga

0
548

Oleh : dr. Bobie Rolando Tanjung

Beritasiber.com – Jakarta, Telinga adalah salah satu bagian dari tubuh kita yang memiliki fungsi utama sebagai pusat pendengaran. Telinga mampu mendengar bunyi atau suara yang bisa itu  berasal dari suara orang yang sedang berbicara, suara klakson kendaraan bermotor, musik dari radio, alat-alat para pekerja yang sedang bekerja dan lain sebagainya. Semua bunyi tersebut sering terdengar oleh telinga kita dalam menjalanin aktivitas rutin kita sehari-hari. Bunyi yang terdengar tersebut tidak menjadi masalah buat telinga kita selama masih dalam batas normal ambang pendengaran manusia. Seperti kita ketahui batas ambang maksimal bunyi atau suara yang bisa didengar oleh telinga kita tidak lebih dari 85dB yang berarti bila ada bunyi atau suara melebihi batas yang disebutkan maka akan menyebabkan gangguan pendengaran pada telinga. Gangguan ini nantinya malah menjadi polusi suara, dimana polusi suara berada diurutan ketiga setelah polusi udara dan air.

Saat suara atau bunyi sudah tidak baik buat pendengaran manusia maka hal ini sudah jelas akan berpengaruh pada kesehatan manusia. Kenapa mengganggu kesehatan karena dampak yang ditemukan nantinya akan mempengaruhi kualitas hidup manusia itu sendiri. Di negara kita khususnya kota-kota besar yang ada di Indonesia, polusi suara sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Sebut saja salah satu kota besar yang juga merupakan ibukota negara kita yaitu Jakarta dan kota besar lainnya seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta dll. Polusi suara di kota-kota besar sudah menjadi topik besar di negara kawasan Eropa sejak lama dibandingkan dengan Amerika. Bahkan survey terbaru 2017 ini negara yang memiliki polusi suara tertinggi adalah Cina sedangkan untuk negara yang memiliki polusi suara terendah hampir sebagian besar ada di kawasan Eropa.

Paparan bunyi atau suara yang terlalu keras dan jangka waktu yang lama akan memberikan efek kurang baik terhadap telinga kita diantaranya keluhan yang sering didapat berupa gangguan pendengaran, telinga berdenging atau berdengung bahkan data WHO menambahkan akibat terpapar suara yang berlebihan juga akan menyebabkan gangguan tidur, stress, kecemasan bahkan bisa menyebabkan masalah kardiovaskuler seperti tekanan darah tinggi dan jantung. Salah satu masalah gangguan yang sering dikeluhkan oleh pasien yang terpapar polusi suara adalah telinga berdengung, berdenging, berdesis. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Departemen THT-KL di Rumah Sakit Kariadi Semarang yang menghubungkan tinitus dengan kualitas hidup didapatkan data hampier sebagian besar menderita tinitus bersifat menetap dengan jenis berdenging dalam telinga dan memiliki gangguan sedang terhadap kualitas hidup. Jenis penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian di negara tetangga kita Singapura dimana gangguan dari tinitus lebih ringan bahkan sangat ringan. Untuk negara maju seperti Singapura bisa berbeda karena dipengaruhi juga dengan ekonomi, pendidikan dan kepedulian pasien terhadap kesehatannya. Tingkat ekonomi dan pendidikan yang lebih tinggi sehingga kepedulian terhadap kesehatan lebih baik. Berbeda dengan  negara berkembang seperti Indonesia contohnya dimana kesadaran pasien terhadap kesehatannya dinilai masih cukup kurang. Pasien baru mau datang untuk berobat setelah menunda dalam jangka waktu yang lama dan datang ke dokter setelah gejala semakin berat atau parah.

Tinitus adalah salah satu bentuk gangguan berupa sensasi suara di dalam telinga bagian dalam dengan atau tanpa adanya rangsangan atau pemicu dari luar. Gangguan tersebut bisa berupa bunyi berdengung, berdenging, berdesis atau mungkin bergemuruh dalam telinga. Tinitus bukan suatu penyakit dan dibagi menjadi

  1. Tinitus subjektif dimana gangguan dari bunyi tersebut hanya dapat didengar oleh pasien itu sendiri dengan nada tinggi atau rendah. Bisa disebabkan krn adanya sumbatan seperti tumor, tuba katar, infeksi liang telinga seperti otitis media bahkan ada beberapa kasus bisa dikarenakan serumen atau kotoran telinga.
  2. Tinitus objektif dimana gangguan bunyi dapat didengar oleh pemeriksa melalui pemeriksaan disekitar telinga pasien. Pada tinitus objektif biasanya sering disebabkan gangguan vaskuler atau pembuluh darah. Bunyi dari tinitus tersebut seirama dengan denyut nadi.

Untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab dari tinitus tersebut, dokter harus menanyakan secara jelas kepada penderita demi mendapatkan diagnosis penyakit seperti timbulnya sering atau tidak, mengganggu pasien saat beristirahat dan semakin bertambah parah atau tidak, adakah riwayat pernah cedera atau trauma pada daerah kepala atau mungkin di sekitar daerah telinga, riwayat bekerja dengan kondisi tempat kerja yang terpapar bunyi atau bising yang lama, riwayat penggunaan obat-obatan tertentu. Selain itu dokter juga harus menanyakan kepada pasien apakah pasien memiliki stress terhadap kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan saat ini. Pemeriksaan pada telinga dengan menggunakan corong telinga yang dalam istilah medis disebut dengan otoskop untuk melihat kondisi dalam telinga. Pemeriksaan audiometri, garpu tala bahkan laboratorium dilakukan sebagai pemeriksaan penunjang atau tambahan.

Pasien yang datang dengan tinitus akan memiliki keluhan selain gangguan bunyi dalam telinganya. Untuk itu ada beberapa cara untuk mengatasi keluhan pada pasien dengan tinitus diantaranya:

  1. Memberikan penjelasan dan konsultasi psikologis karena pengaruh stress bisa jadi salah satu penyebab.
  2. Mengajarkan pasien untuk relaksasi setiap hari dan beradaptasi dengan gangguan bunyi tersebut.
  3. Menggunakan pelindung telinga apabila bekerja dilingkungan yang terpapar bunyi atau suara yang keras.
  4. Menggunakan alat bantu dengar atau tinitus masker.
  5. Pemberian obat-obatan seperti vitamin, obat antidepresan pada pasien yang mengalami gangguan saat malam hari.
  6. Tindakan operasi apabila tinitus disebabkan oleh tumor.
  7. Menjaga dan mengontrol kesehatan jantung apabila gangguan tinitus tersebut berhubungan dengan gangguan vaskuler atau pembuluh darah. Karena tinitus memiliki faktor resiko yang sama dengan penyakit kardiovaskuler.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here