Akibat Buruknya Kinerja Kades, Diduga Buku Letter C Hilang Sehingga Banyak Timbul Sengketa Tanah Di Desa Glaggah Kecamatan Arosbaya Madura

2
5852
Contoh Gambar Letter C

Beritasiber.com – Bangkalan, Kurang atau minimnya bukti kepemilikan atas tanah menjadi salah satu penyebab dari minimnya proses pendaftaran hak atas tanah. Hal lain yang menjadi penyebab yakni minimnya pengetahuan masyarakat akan arti penting bukti kepemilikan hak atas tanah.

Untuk proses pembuatan sertifikat bukti kepemilikan, mereka harus memiliki surat-surat dan data kelengkapan untuk tanah yang mereka miliki, akan tetapi pada kenyataannya tanah-tanah yang dimiliki masyarakat pedesaan atau masyarakat adat itu dimiliki secara turun temurun dari nenek moyang mereka, sehingga surat kepemilikan tanah yang mereka miliki sangat minim bahkan ada yang tidak memiliki sama sekali.

Mereka menempati dan menggarap tanah tersebut sudah berpuluh-puluh tahun sehingga masyarakat mengetahui bahwa tanah tersebut adalah milik si A atau si B tanpa perlu mengetahui surat-surat kepemilikan atas tanah tersebut.
Untuk tanah yang memiliki surat minim itu biasanya berupa leter C. Letter C ini diperoleh dari kantor desa dimana tanah itu berada, letter C ini merupakan tanda bukti berupa catatan yang berada di Kantor Desa atau Kelurahan. Buku letter C ini biasanya dijadikan dasar atau catatan penarikan pajak, dan keterangan mengenai tanah. Adapun kutipan Letter C terdapat di kantor kelurahan/desa, sedangkan Induk dari Kutipan Letter C terdapat di Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. Masyarakat sendiri sebagai pemegang hak atas tanah memiliki alat bukti berupa girik sebagai alat bukti pembayaran pajak atas tanah.

Yang memprihatinkan lagi, bukti kutipan Letter C yang sangat minim sebagai salah satu catatan mengenai kepemilikan tanah diduga hilang. Hal ini tentu saja makin menimbulkan gelapnya riwayat tanah desa dan pada gilirannya akan timbul banyak permasalahan atau sengketa terkait tanah desa tersebut.

Menurut keterangan salah seorang warga masyarakat di desa Glaggah Kecamatan Arosbaya Bangkalan Madura bernama Karbullah/sriama yang saat ini sedang mengalami permasalahan tanah tersebut mengatakan,”Saya merasa di rugikan atas penyerobotan tanah yang saya miliki, padahal setiap tahunnya saya membayar pajak atas tanah tersebut, namun sekarang tanah saya kok separuhnya bisa beralih atas nama osen, dan keduanya sama mempunyai surat SPPT, dari mana surat tersebut bisa diterbitkan ? padahal saya tidak pernah menjual-belikan tanah yang saya miliki, saya pernah mendatangi kantor BPN, namun tidak mendapatkan hasil,lantaran pihak BPN kurang merespon nya ,” Ungkap Sriama kepada awak media di rumah (13 /11/17).

Illustrasi Gambar Letter C

Menambahkan Heji (anak Sriama) mengatakan,”Sengketa tanah milik orang tua saya sangat jelas ada unsur rekayasa. Awalnya Osen yang sekarang menempati tanah saya pernah mau membeli tanah saya. Pada saat itu dia nawar 30 juta, saya minta 50 juta, karena hasil penjualan tanah tersebut akan dipakai untuk memperbaiki rumah orang tua saya yang sudah mau roboh, lalu kami sepakat untuk diberi waktu jangka tiga bulan, namun setelah jatuh tempo 3 bulan, di tanah saya malah langsung di bangun dan sudah memiliki SPPT baru, ini bisa di bilang perampasan dan penyerobotan tanah saya,”paparnya.

“Anehnya lagi, saat saya mau konfirmasi ke kantor desa terkait munculnya SPPT baru itu, saya malah di ping pong untuk menanyakan masalah tersebut ke BPN. Memang sempat dimediasi oleh Klebun Jafar Kades Glaggah untuk menyelesaikannya, namun Buku Letter C katanya hilang (terbakar) pada saat kades sebelumnya menjabat.”Tambahnya.
Menurut keterangan dari tokoh masyarakat berinisial S mengatakan,” Pada awal kades alimuddin (alm.) yang di gantikan kades Mudakkir (kades non aktif ) serah terima jabatan kades glaggah sekitar thn 2000 data dokumen letter C desa glaggah tidak di serahkan terhadap kades mudakkir (non aktif). Dengan tidak ada nya Dokumen leter C desa glagga, kades (non aktif) dalam kinerja nya sangat di kenal buruk oleh masyarakat luas,faktanya tanah bengkok desa dan tanah kitir (tanah adat) dijual belikan oleh kades kepada staf nya, dan tanah milik warga dirubah menjadi tanah bengkok desa, padahal tanah tersebut di lengkapi surat kohir dan girik/sppt, di daerah kampung laok gunung, masyarakat harus mengikuti peran aktor kades lantaran hukum adat lebih di pioritaskan dari pada hukum Negara, sehingga memang sering mengangkangi rasa keadilan masyarakat, dan saya siap untuk menjadi saksi,”Ungkapnya.

Terkait pengaduan masyarakat terhadap masalah hak atas tanah mereka yang mengalami ketidakjelasan status, serta tidak adanya keadilan hukum, secara terpisah media beritasiber.com menghubungi Kades (Klebun) H Jafar selaku kades desa glaggah Kecamatan Arosbaya (baru terpilih) melalui telepon selulernya.

Klebun Jafar mengatakan,”Iya pak bener pihak Karbullah/ sriama dengan pihak orang tersebut mendatangi kantor saya, namun saya coba mediasi tidak membawakan hasil, lantaran pihak sriama menolaknya. dan meminta data Letter C harus di buka. Kan saya baru dilantik menjadi kades pak? Saya juga belum ada serah terima dokumen Letter C desa katanya di bakar oleh kades lama pak. Namun hal ini menyangkut legilitas warga masyarakat, tetap akan saya bantu sesuai dengan kewenangan saya, sementara saya masih fokus benahi desa seperti infrastruktur perbaikan jalan, irigasi atas dukungan dan kerjasama semua masyarakat desa agar kami ada perubahan yang signifikan,”Kata Klebun H Jafar di ujung telponnya (10/11/2017).

Peran penting aparat sebagai perangkat desa yang seharusnya melayani masyarakat memang harus menjadi lebih professional. Kinerja buruk aparat desa akan berakibat munculnya permasalahan dalam masyarakatnya.

Seperti contoh permasalahan diatas, Masyarakat yang tergabung 10 kampung di desa Glaggah Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan Madura sangat berharap agar dibawah kepemimpinan Klebun (Kades) H Jafar yang baru masalah pertanahan seperti yang dialami Karbullah/sriama dapat diselesaikan dengan baik.
(MUS)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here